Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Pecinta Seni dan Budaya Indonesia

Parmato Hitam dan Sawahlunto

Blog EntryApr 22, '12 3:44 PM
for everyone
Foto from Syukri SSn
 
SEBUAH CATATAN DARI NGAMEN
BERSAMA MUSIK “KERONCONGAN” DI SAWAHLUNTO

Sedikit Mengenal Akar  Musik Keroncong
Ada baiknya bukan? Kalau Saya sedikit mengajak kita berpikir bagaimana musik Keroncong sampai ada di kota Sawahlunto yang notabebe ranah kesenian dan kebudayaan Minangkabau. Jawaban sederhana suka-suka dong, namanya kesenian bisa saja berada dan berkembang dimana saja. Pertanyaannya adalah bagaimana bisa ada dan berkembang diluar wilayahnya.
Seperti jamak diketahui dalam pengetahuan umum akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara. Dari daratan India (Goa) masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari Maluku. Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang pula musik ini. Bentuk awal musik ini disebut moresco (sebuah tarian asal Spanyol, seperti polka agak lamban ritmenya), di mana salah satu lagu oleh Kusbini disusun kembali kini dikenal dengan nama Kr. Muritsku, yang diiringi oleh alat musik dawai. Musik keroncong yang berasal dari Tugu disebut keroncong Tugu. Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan. Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang). Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang.[1]
Musik Keroncong  masuk ke Indonesia sekitar tahun 1512, yaitu pada waktu Ekspedisi Portugis pimpinan Alfonso de Albuquerque datang ke Malaka dan Maluku tahun 1512. Tentu saja para pelaut Portugis membawa lagu jenis Fado, yaitu lagu rakyat Portugis bernada Arab (tangga nada minor, karena orang Moor Arab pernah menjajah Portugis/Spanyol tahun 711 - 1492. Lagu jenis Fado masih ada di Amerika Latin (bekas jajahan Spanyol), seperti yang dinyanyikan Trio Los Panchos atau Los Paraguayos, atau juga lagu di Sumatera Barat (budaya Arab) seperti Ayam Den Lapeh.[2]

Musik Keroncong Di Sawahlunto
Bagaimana Musik khas Indonesia yang kental perkembangannya di tanah Jawa ini sampai dan hidup di Sawahlunto? Sebagai unsur kesenian yang universal, musik keroncong tentu dapat saja menyebar kemana-mana baik dibawa atau didatangkan  maupun ditularkan. Kapan tepat awal mula musik keroncong eksis di Sawahlunto? Sejauh ini belum dapat diketahui secara pasti. Karena memang belum tergali secara mendalam.
Namun yang jelas fakta sejarah menunjukkan tumbuh dan berkembangnya kota Sawahlunto dipicu dengan ditemukannya batubara yang di ekplorasi awal oleh de Groot 1858. Kemudian ekplorasi detail 1867-1868 oleh Ir. W.H de Greve.  Sejak itu berbagai upaya ekplorasi terus dilakukan hingga 1891 Belanda menghasilkan produksi pertama di tahun 1892. Beberapa tahun sebelum itu tenaga kerja dan buruh sudah didatangkan untuk membuka lahan dan membangun infrastruktur tambang Ombilin di Sawahlunto. Apa artinya ? sejak itu persinggungan, trans budaya sudah berlangsung.
Sebagai manusia yang berkebudayaan dan berperadapan dapat dipastikan pada setiap buruh dan pekerja tambang di Sawahlunto itu melekat dalam diri mereka akan berbagai unsur kebudayaan dari daerah asal termasuk dalam berkesenian. Beberpa fakta sejarah budaya Sawahlunto menunjukkan terdapat didaerah ini bagaimana budaya luar dihadirkan dalam bentuk atraksi seni budaya. Kuda kepang misalnya merupakan atraksi kesenian yang sudah lama eksis sejak perburuhan di era kolonial. Kuda kepang Sawahlunto hingga kini tetap eksis bahkan berkembang dan memberikan kontribusi besar dalam merekat hubungan sosial masyarakat Sawahlunto. Tidak seperti didaerah asalnya kuda kepang di syaratkan hanya dapat diperankan oleh suku asli Jawa beragama Islam. Lain kuda kepang di Sawahlunto, asal mau memerankan dari manapun, suku apapun dan agama apaun dapat berkontribusi. Begitupun ronggengan bahkan sengaja didatangkan oleh pihak perusahaan tambang Ombilin sejak era kolonial Belanda. Meski ronggeng dalam kontek kekinian sudah tidak dapat lagi dinikmati di Sawahlunto. Hal ini membentangkan kebudayaan dan kesenian  juga mengalami pasang surut di kota Sawahlunto.
Anggapan sementara saya, musik keroncong di Sawahlunto tidak terlepas dari mobilisasi tenaga buruh tambang Ombilin sejak era kolonial Belanda. Pada periode-periode berikutnya kebutuhan akan hiburan dan kesenian baik bagi kalangan pejabat tambang dan buruh tak dapat dihindari. Hal itu terbukti dengan didatangkannya hiburan berupa ronggeng oleh  pihak perusahaan  dari Jawa untuk menghibur di gedung societeit dan di barak-barak tambang yang dikenal dengan kata tansi di Sawahlunto.

NGAMEN: MEMBANGUNKAN MUSIK KERONCONG SAWAHLUNTO
KERONCONG SOEGAR begitu saya menyebutnya. Anda boleh menafsirkannya. Soegar ejaan lama bahasa Indonesia sepadan dengan kata sugar dalam bahasa Inggris yang berkonotasi Sugar alias manis. Menyebutnya dengan keroncong Segar tidak ada salahnya, setidak-tidak bagi pecinta dan penikmat musik keroncong di Sawahlunto. Karena musik ini cukup menyegarkan, menghibur dan mewarnai pernak-pernik kesenian di Sawahlunto. Saya juga ingin berargumentasi lain, kalau Belanda menunjuk Sawahlunto dengan sebutan Lembah Soegar (Soegar Kloof). Lembah Soegar menunjuk kepada wilayah Lembah Segar sekarang. Wilayah ini merupakan pusat kota. Dari Soegar ini dahulu Belanda menjadi pusat pengendalian administrasi dan kegiatan pertambangan. Pusat pemerintahan Hindia Belanda setingkat kota (gemeente) juga didirikan. Selain di pusat-pusat barak atau tansi-tansi buruh, berbagai atraksi seni budaya digelar disini. Terutama dalam perhelatan yang diusung perusahaan senantiasa dibarengi berbagai kesenian. Ada juga yang menafsirkan mengapa Belanda menyebut daerah yang terletak di lembah ini dengan sebutanSoegar. Soegar yang dimaksud adalah manis. Manis batubaranya kalau ditambang dan diperdagangkan untuk menghasilkan gulden. Memang diketahui di Lembah Segar pusat kota Sawahlunto mengandung batubara berkwalitas kalori sangat baik. Jadi tidak ada salahnya saya menyebutnya Keroncong Soegar bukan ? sepertinya Keroncong Tugu karena musik keroncong itu lahir dan berkembang di daerah Tugu. Anda pun boleh menyebut dan menamainya. Namun demikian apalah arti sebuah nama, tanpa aksi dan eksistensi yang nyata.
Lalu bagaimana eksistensi musik keroncong di Sawahlunto dalam kekinian? Yang jelas tetap ada. Hanya persoalan intensitas kehadirannya saja yang perlu menjadi perhatian. Sesekali waktu musik keroncong di Sawahlunto tetap muncul dalam moment-moment tertentu.
Seperti halnya pada malam minggu tanggal 4/02/2012 di terminal pasar Sawahlunto. Ada suasana lain, minimal sejauh yang saya ikuti selama berada dilokasi dari awal hingga akhir.  Entah ada kerinduan terhadap musik yang bertempo lambat ini atau karena segmen musiknya yang khas. Beberapa seniman Sawahlunto secara spontan memainkan musik keroncong di area terbuka dengan mengambil tempat di terminal dekat pasar Sawahlunto
Sederhana saja motivasi para seniman ini, berlatih dari ruang terbatas atau tertutup ke arena publik sekaligus memberikan hiburan dan penyegaran kepada para penikmat sajian hiburan juga demi tetap eksisnya musik keroncong di Sawahlunto. Ada harapan lebih besar adalah bagaimana musik keroncong menjadi bagian dari dunia hiburan dalam dunia kepariwisataan Sawahlunto. Dengan demikian bukankah musik keroncong di Sawahlunto tetap bisa hidup dan berkembang? Sekali merengkuh dayung dua, tiga musik keroncong membawa spirit berkesenian.
Setiap malam minggu memang telah menjadi program Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Sawahlunto untuk memberi ruang dan waktu bagi berbagai kesenian tradisional. Secara silih berganti, sebutlah saluang, rabab, salawat dulang menghibur wisatawan di pusat kuliner malam di terminal Pasar Sawahlunto. Dalam beberapa pergantian sajian beberapa kesenian itu, musik keroncong mengambil peran tepatnya malam minggu tanggal 4/02/2012. Ada catatan mengembirakan setidak-tidaknya bagi saya.
Tapi saya yakin juga kalau Anda berada pada saat waktu dan tempat yang sama. Penilaian kita tidak akan jauh berbeda. Coba anda bayangkan dari sekitar lima atau enam orang seniman mencoba mengekpresiskan kemampuan mereka dengan memainkan musik keroncong. Seiring waktu berjalan,  seniman yang punya perhatian dan kerinduan akan musik ini terus sajaberdatangan. Secara spontanitas pula saling berkontribusi mulai dari saling bergantian memainkan alat musik, hingga bernyanyi.
Situasi itu mengundang banyak perhatian, tidak seperti malam minggu sebelum-belumnya. Boleh dikatakan animo masyarakat, penikmat dan wisatawan biasa-biasa saja. Namun segmen keroncong malam itu seperti terjadi sebuah dialog dua arah. Secara spontanitas pula saling berkontribusi mulai dari saling bergantian memainkan alat musik, hingga bernyanyi. Saya pikir ini juga sebuah metode yang baik dalam merangsang peran serta berbagai pihak untuk hidup dan berkembangnya kesenian dan kebudayaan di Sawahlunto.
Peran itu tentu tidak melulu dipersamakan dengan kemampuan memainkan alat musik, bernyanyi khas keroncong dan lainnya. Menjadi motivator juga peran yang luar biasa. Seperti yang ditunjukkan oleh Ir. Amran Nur Walikota Sawahlunto. Surprise bagi yang hadir di arena musik keroncong malam itu, seorang walikota mau ikut nimbrung ditengah seniman yang sedang mengekpresikan diri. Menjadi penonton dan penikmat yang baik juga peran yang signifikan. Ikut meramaikanlah dalam bahasa sederhananya. Apalagi kalau ikut ‘saweran’ wah... itu sebuah apresiasi yang luar biasa. Karena patut di sadari bagaimanapun juga para seniman berkesenian perlu energi. Apalagi mereka dengan sadar mencoba mengekpresikan, mengakualisasikan diri dengan berkesenian yang menyuguhkan sesuatu kepada diluar diri mereka. Kali ini konsep yang dipilih dan dijalan sebentuk mengamen. Siapa lagi, kapan lagi kalau bukan kita dari sekarang.

Kokes-Sawahlunto, 14 Februari 2012



Kali ini kita akana bicarakan tentang malam Ir. W.H. de Greve di Durian Gadang, Silokek, Sinjunjuang. Foto ini (18 x 21 cm.) dibuat tahun 1872. Di nisan makam itu tertulis: “Hier rust de mijn ingenieur W.H. de Greve den 22″ October 1872 door een ongelukkig toeval alhier omgekomen R.I.P.” yang kurang lebih berarti: ‘Di sini beristirahat dengan tenang insinyur pertambangan W.H. de Greve yang pada 22 Oktober 1872 meninggal di tempat ini karena kecelakaan”.
Kisah hidup W.H. de Greve di Hindia Belanda berakhir cukup tragis, sebagaimana ditulis oleh Yonni Saputra, SS  yang antara lain menjadi sumber rujukan tulisan ini. Lahir di Frakener, Belanda, pada 15 April 1840, Willem Hendrik de Greve adalah seorang geolog yang pintar. Dalam usia masih 19 tahun, ia telah meraih gelar insinyur pertambangan dari Akademi Delft pada 1859. Kemudian ia segera pergi ke Hindia Belanda untuk mengadu peruntungan. Pada 14 Desember 1861 insinyur muda yang bersemangat itu ditunjuk oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk menangani berbagai penelitan tentang bahan tambang di Hindia Belanda. Selang dua minggu kemudian, pada 27 Desember 1861, De Greve menikah dengan ELT Baroness, putri W.R. Baron Hoevell. Pasangan itu kemudian beroleh tiga orang anak.
Sebagai peneliti pertambangan, De Greve, diutus oleh Pemerintah Kolonial Belanda kemana-mana, antara lain ke Seram dan Bangka. Sembilan tahun setelah penyelidikan yang dilakukan oleh seorang insinyur Belanda yang lain yang bernama C. de Groot van Embden, melalui surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 26 Mei 1867, De Greve diperintahkan pergi ke Ombilin untuk melakukan penyelidikan lebih rinci mengenai kandungan mineral di sana, yang sejak tahun 1858 sudah diteliti juga oleh seniornya, Ir. de Groot.
Di Ombilin De Greve melakukan penelitian intensif. Pada 1868 ia menyatakan bahwa kandungan ‘emas hitam’ di aliran Sungai Ombilin tak kurang dari 200 juta ton, yang tersebar di beberapa tempat, seperti Parambahan, Sigaloet, Lembah Soegar, Sungai Durian, Sawah Rasau, dan Tanah Hitam. Tahun 1870 De Greve melaporkan hasil penelitiannya itu ke Batavia dan pada 1871 ia, bersama W.A. Henny, mempublikasikan hasil penelitiannya yang judul Het Ombilien-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het Transportstelsel op Sumatra’s Weskust (’s Gravenhage: Algemeene Landsdrukkerij).
Seperti terefleksi dalam judul laporannya itu, rupanya De Greve sudah memikirkan sistem transportasi (transportstelsel) apabila kandungan batubara Ombilin dieksploitasi nantinya. Dan hal itulah yang membuat hidupnya berakhir tragis. Pada 1872, demikian Yonni, De Greve melakukan ekspedisi lagi menghiliri Sungai Ombilin hingga ke Batang Kuantan. Selain masih menyelidiki kandungan dan sebaran batu bara Ombilin pada jalur Sijunjung, ekspedisi itu juga dimaksudkan untuk mengkaji kemungkinan membangun jalur transportasi alternatif untuk membawa batu bara Ombilin melalui Pantai Timur’ (Selat Malaka) jika sudah dieksploitasi nantinya.
Rombongan ekspedisi De Greve mencoba melintasi Batang Kuantan yang besar dan berarus deras itu. Di luar dugaan dan perhitungan, mengutip Yonni lagi, ketika memanfaatkan aliran Sungai Kuantan, perahu yang ditumpangi De Greve terbalik dan dia terseter arus desar Batang Kuantan. Ia tidak dapat menyelamatkan diri atau tidak pula ada orang yang bisa menyelamatkannya. De Greve tewas tenggelam. Peristiwa naas itu terjadi pada 22 Oktober 1872.
Mayat De Greve berhasil ditemukan dan kemudian dimakamkan di Nagari Durian Gadang, Silokek (sekarang masuk Kabupaten Sijunjung). Makam itulah yang terekam dalam foto ini. Untuk menghormati De Greve, pemerintah menamakan satu taman di Padang dengan namanya: Taman De Greve (letaknya kira-kira dekat Gedung Javasche Bank yang baru di Padang). Di sana dibangun sebuah monumen untuk mengenang insinyur berbakat yang mati muda itu. Salah satu dermaga kapal di tepian Batang Arau juga diberi nama De Grevekade (Dermaga De Greve).
Demikianlah kisah hidup Ir. W.H. de Greve yang cukup singkat itu (32 tahun). De Greve berkubur di Tanah Jajahan, jauh dari kampung halamanya, Frekener. Lepas dari niat dari setiap hati manusia yang hidup, langkah, rezeki, pertemuan, dan maut – seperti kata ahli hikmah – adalah rahasia Dia Yang Maha Kuasa.

Blog EntryApr 22, '12 3:13 PM
for everyone
Rumah Sakit Sawahlunti 1925

SAWAHLUNTO adalah salah satu kota terpenting di Sumatra pada zaman kolonial. Kota itu menjadi terkenal karena di sana ditemukan deposit batubara oleh insinyur Belanda De Greve pada pertengahan abad ke-19. Pada 1876 Pemerintah Kolonial Belanda mengekplorasi kandungan batubara itu yang kemudian terkenal dengan mama “Tambang Batubara Ombilin” (Ombilin Coal-Mines). Pada tahun 1892 dibangunlah kota yang menjadi cikal bakal kota Sawahlunto sekarang.

Banyak pekerja pribumi didatangkan ke Sawahlunto untuk dipekerjakan dalam lubang-lubang tambang di bawah tanah. Ingalah ‘Lubang Suro’ di lokasi tambang batubara Sawahlunto yang terkenal banyak memakan korban itu. Kebanyakan di antara pekerja tambang itu adalah para tahanan pribumi yang berasal dari berbagai etnis di Nusantara. Mereka inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan “urang rantai”. Tak terkecuali sebagian dari pemberontak komunis Silungkang (1927) juga di kirim ke tambang batubara di Swahlunto, sebagaimana direfleksikan oleh Bachtiar Djamily dalam novelnya Orang rantai dari Silungkang (Djakarta: Tekad, 1963). Sejarah perjalanan tambang batubara di Sawahlunto dapat dibaca dalam disertasi Erwiza Erman, Miners, managers and the state: a socio-political history of the Ombilin coal-mines, West Sumatra, 1892-1996 (Universiteit van Amsterdam, 1999).

Foto yang kami sajikan kali ini dibuat tahun 1925, dan terakhir tercatat sebagai milik F.F.W. Kehrer. Foto ini memperlihatkan rumah sakit tambang batubara di Sawah Lunto tempat para pegawai tambang yang sakit dirawat. Bangunannya yang terletak di atas bukit kelihatan cukup anggun dan bergaya Belanda. Di latar depan kelihatan para personel medis rumah sakit itu. Rupanya banyak pekerjanya juga direkrut dari kalangan pribumi. Tampaknya mereka sedang mengadakan gotong-royong merapikan tanaman di sekitar rumah sakit itu. Mungkin ada baiknya bangunan rumah sakit ini, yang konon masih ada dan masih dipakai sekarang, dipelihara untuk dijadikan sebagai aset wisata sejarah kota tambang Sawahlunto.


Foto : SumbarOnline .com


Wakil Walikota Sawahlunto, Erizal Ridwan, pada hari Minggu (15/4) membuka kejuaraan Binaraga dan Body Contest se Sumatera di GPK Kota Sawahlunto. Kejuaraan yang diikuti lebih dari 100 atlit binaraga dan body contest ini datang dari berbagai daerah dan propinsi di Sumatera kecuali Propinsi Bangka Belitung untuk memperebutkan hadiah total sebesar Rp.44 juta. Tampak juga atlit binaraga Nasional dari Jawa Barat, Kumara Indrayana, hadir dalam kegiatan Binaraga dan Body contest yang baru pertama kali dilakukan di kota tua sawahlunto ini.Sebagai tuan rumah, Kota Sawahlunto menurunkan atlit binaraga andalannya Iwan Samurai dan 6 orang peserta dalam body contest.

Kegiatan seperti ini sangat mendukung program pemerintah daerah Kota Sawahlunto yang gencar melakukan promosi dan terus berbenah agar dapat menjadi daerah tujuan wisata. "Salah satu cara mendatangkan orang dan memperkenalkan keunikan sawahlunto ini adalah dengan melakukan berbagai event dan kegiatan. Dan ini adalah salah satu cara yang kami pikir akan membantu program pemerintah." ucap Gannoffahlis di salah satu wawancara dengan media masa.

Wakil Walikota Erizal Ridwan, sangat mengapresiasi sekali kegiatan PABBSI ini, disebabkan bisa melaksanakan event se Sumatera. Karena dengan event ini katanya dapat mempromosikan Sawahlunto keluar daerah sebagai salah satu Kota wisata utama di Sumbar. Wawako juga berharap, kedepan berbagai event olahraga dapat dilaksanakan di Sawahlunto. “Kami bangga dengan PABBSI karena pada ajang Porprov XI lalu sebagai penyumbang medali terbanyak untuk Sawahlunto”, pujinya.

Dengan adanya kegiatan seperti ini, Homestay Sawahlunto masih menjadi pilihan alternativ ter-favorit bagi para peserta, official dan pengunjung yang datang dari berbagai daerah dan propinsi. Tak kurang dari sekitar 55 orang peserta dan official binaraga dan body contest memilih Homestay Sawahlunto sebagai tempat mereka ber-istirahat. Demi menjaga citra dan pelayanan para tamu yang berkunjung, Asosiasi Homestay Sawahlunto memberikan potongan harga bagi para peserta dan official event binaraga dan body contest ini. Tidak hanya itu saja, puding penunjang yang dibutuhkan oleh para peserta seperti ayam rebus dan telor ayam juga dipenuhi sesuai dengan keinginan tamu kehormatan kami.

Dengan adanya event kota seperti ini, Homestay sawahlunto selalu menjadi pilihan penginapan Alternatif terfavorit setelah Hotel Parai dan Juga Hotel Ombilin. Dengan harga yang cukup terjangkau (mulai Rp. 50.000/malam hingga Rp. 200.000/malam), Homestay Sawahlunto siap memberikan pelayanan terbaik untuk para tamu kehormatannya. Menginap di Homestay Sawahlunto,... Serasa sedang berlibur di rumah sendiri. Nikmati suasana yang hangat dan suasana kekeluargaan yang kami tawarkan... Come To sawahlunto, enjoy your vacation like being in your home..

Blog EntryApr 13, '12 1:29 AM
for everyone
Kegiatan masyarakat dan perkantoran di Kota Sawahlunto tidak terpengaruh gempa. Beberapa pegawai kantor yang berasal dari Padang juga masih terlihat aktif bekerja, Kamis (11/4).  Kondisi aktivitas pertambangan yang ada di Kota itu juga tidak begitu terpengaruh.

Fadlan, kontributor padang-today.com, melaporkan gempa memang dirasakan sebagian warga Kota tambang itu. Kondisi itu juga mengejutkan masyarakat, namun karena guncangan hanya terasa sedikit, masyarakat kembali beraktifitas seperti biasa.

Hal yang sama juga terjadi pada lokasi pertambangan yang ada di Kota Sawahlunto. "Tidak ada kerusakan pada lobang-lobang tambang maupun bekas lobang tambang. Namun aktivas sempat terhenti sebentar ",  katanya melalui pesan singkat.

Hal yang sama juga disampaikan Humas Kota Sawahlunto, Andi Rastika. Dari pantauannya, hingga kini pegawai negeri tetap menjalan rutinitas pekerjaan dan tidak terpengaruh. "Walaupun mereka punya keluarga di Padang mereka tetap hadir di sini",  katanya. (*sumber)

Foto by padangmedia.com
Makan Bajamba merupakan salah satu tradisi adat minangkabau dan dilaksanakan dalam sebuah upacara adat. Dimana semua tokoh masyarakat serta seluruh warga duduk bersama dan makan dari sebuah jamba (loyang/piring) yang besar juga secara bersama-sama. Acara adat inilah yang selalu diusung oleh Pemerintah Kota Sawahlunto guna merayakan Hari Jadi Kota Arang ini.

Pada tanggal 1 Desember 2011 ini, 'Makan bajamba' ini diikuti oleh Walikota Amran Nur, Wawako Erizal Effendi, pimpinan SKPD, Muspida, dan ninik mamak serta bundo kanduang dari 10 nagari yang ada di Kota Sawahlunto. Selain itu turut hadir juga beberapa petinggi yang datang ke Kota Sawahlunto untuk ikut makan bajamba. Antara lain Gubernur Sumatera Barat (Bpk. Irwan Prayitno) dan mantan Gubernur Sumatera Barat (Bpk. Azwar Anas). 

Dalam sebuah pernyataan Azwar Anas berkata "sewaktu saya masih jadi gubernur, saya sangat prihatin dengan kondisi Sawahlunto, terutama setelah habisnya deposit batu bara di bumi kota arang ini. Namun, keprihatinan dan kekawatiran saya jadi berubah, setelah saya dua kali mengunjungi kota ini. Keprihatinan saya berubah jadi kekaguman, dengan bangkitnya dan bergairahnya perekonomian kota Sawahlunto berkat seorang Amran Nur", pujinya. 

Wako Amran Nur dalam sambutannya mengatakan, kalau HUT Kota Sawahlunto ke 123 ini merupakan angka keramat. "Ibarat dalam olahraga, angka ini merupakan sebuah aba-aba untuk berlari. Sama dengan pembangunan kota, angka ini mengisyaratkan kita untuk segera berlari mencapai kemajuan disegala bidang", terang Amran.

Selamat Ulang Tahun Kota Sawahlunto.. Maju terus dan berlarilah mengejar impian..

Blog EntryDec 1, '11 11:40 PM
for everyone
Foto by Tumpak (Padang Media)
 Hari ini, Kamis (1/12), Kota Sawahlunto genap berusia ke 123 tahun. Pada hari jadi ini, Ketua DPRD Kota Sawahlunto, Ali Yusuf meminta warga Sawahlunto untuk punya rasa memiliki, partisipasi serta tanggung jawab sebagai kecintaan kepada kota multi etnik tersebut.

Ali Yusuf menyatakan hal itu saat sidang paripurna istimewa dalam rangka Hari Jadi Kota (HJK) Sawahlunto ke 123 di Gedung dewan setempat, Kamis (01/12).

"Dengan rasa memiliki, tentunya kita semua mempunyai sikap dan tindakan yang bijak untuk merawat milik kita. Dari rasa memiliki pula akan timbul rasa tanggungjawab, yaitu tanggungjawab untuk membangun dan memeliharanya,” katanya pada paripurna yang juga dihadiri Walikota, Amran Nur, Wakil Walikota Erizal Ridwan, Setdako Zohirin Sayuti, para kepala daerah tetangga serta sejumlah tokoh masyarakat di kota maupun perantau.

Ali Yusuf menambahkan, dengan rasa tanggungjawab, akan muncul rasa partisipasi. Suatu sikap dan tindakan untuk turut serta berpartisipasi dalam hal yang diperlukan oleh Kota Sawahlunto dan masyarakatnya.

"Sesungguhnya rasa partisipasi ini adalah wujud pengabdian dan pengorbanan seseorang yang diberikan untuk kepentingan daerah dan masyarakat,” harapnya.

Pada hari jadi ke 123, Ali Yusuf juga menghimbau seluruh masyarakat untuk bersama membangun kota sesuai kemampuan masing-masing. Karena, kota itu sebelumnya juga berdiri karena kebersamaan, senasib dan sepenanggungan.

Ia juga mengucapkan terimakasih kepada para pemimpin dan warga kota sebelumnya. Hingga pada usianya sekarang, kota itu telah menunjukkan kedewasaan dan perkembangan di berbagai bidang.

Usai sidang paripurna, Ketua DPRD, Walikota dan para tamu undangan menuju jalan lingkar kota untuk mengikuti prosesi makan bajamba bersama seluruh lapisan masyarakat kota ini. (tumpak)


padangmedia.com - SAWAHLUNTO - Kesenian barongsai dari Himpunan Tjinta Teman (HTT) Padang dan Tabuik dari Paguyuban warga Pariaman Kota Sawahlunto ikut memeriahkan Hari Jadi Kota (HJK) Sawahlunto ke 123 yang digelar di ruas jalan kota itu. Penampilan kesenian tersebut sangat menghibur warga, Kamis (1/12).

Usai perhelatan makan bajamba, para undangan dan warga bersama Walikota Amran Nur, Wakil Walikota Erizal Ridwan dan Ketua DPRD menyaksikan dari dekat atraksi barongsai dari etnik Tionghua dan Tabuik rang Piaman itu.

Pengamatan padangmedia.com, pandangan penonton tertuju dan sesekali memberikan tepuk tangan terhadap atraksi kesenian tionghoa tersebut.

"Hoyak tabuik dan barongsai ini hiburan dan tontonan menarik. Kami sengaja datang untuk menyaksikan atraksi ini," kata warga Muara Kalaban, Yusnimar (39) kepada padangmedia.com.

Dia menambahkan, sayangnya cuaca kurang baik. Karena saat tengah nonton barongsai turun hujan gerimis.

"Tapi ini tak jadi masalah. Yang penting kita dapat nonton barongsai," ungkap ibu dua anak itu. (tumpak)

Asosiasi Homestay Sawahlunto dan 36 warga Terengganu Malaysia yang terdiri dari pelajar, belia, guru dan Asosiasi Home stay Teluk Ketapang hari ini mengikuti perhelatan makan bajamba pada 1 Desember 2011 di Kota Sawahlunto. Hal ini telah menjadi agenda tahunan dari asosiasi Homestay Teluk Ketapang yang mana pada tahun lalu juga membawa rombongan untuk ikut acara adat makan bajamba di kota Sawahlunto ini.

Pimpinan rombongan, Encik Mohd Azmi bin Abd Aziz menyatakan, ini momen baik saat peserta program Pertukaran Pelajar Antar Negeri (PPAN) sedang dikota ini, kali ini terdiri dari 36 pelajar, belia, guru dan rekan-rekan Asosiasi Home stay Teluk Ketapang berkesempatan ikut makan bajamba” katanya usai mengikuti acara penyambutan dengan Walikota Amran Nur, Senin (28/11) .

"Merupakan suatu kehormatan dan kebanggan sendiri bagi kami yang dapatmengikuti acara ini. Apalagi kami diterima dan disambut baik oleh warga Kota Sawahlunto termasuk dari Pimpinan Daerahnya. Ini promosi yang luar biasa" sebut Azmi.

“Kita akan melakukan program pendidikan dan pariwisata mulai hari ini 28 sampai 6 Desember 2011 nanti," kata Ketua Asosiasi Home Stay Teluk Ketapang Terengganu tersebut.

Blog EntryNov 3, '11 12:57 AM
for everyone
Setelah Sawahlunto International Music Festival (SIMFes) pertama yang diselenggarakan 3-5 Desember 2010 lalu, budayawan Edy Utama dipercaya oleh Pemko Sawahlunto untuk menyiapkan SIMFes-2. “Insya Allah SIMFes-2 akan digelar tanggal 2-4 Desember 2011 ini, dengan tag-line festival musik lima benua,” kata Edy Utama. 

Pada SIMFes-2010 berhasil didatangkan musisi/pemusik dari enam negara, yakni; Indonesia, Singapura, Malaysia, Jerman, Abijan dan Mongolia. Untuk SIMFes-2/2011 jumlah musisi yang dihadirkan semakin bertambah, yaitu dari delapan negara, yang mewakili 5 (lima) benua, yakni; Mexico (benua Amerika), Kamerun (benua Afrika), Melbourne (benua Australia), Belgia (benua Eropah), Taiwan, Uzbekhistan, Korea Selatan dan Indonesia (benua Asia). Itu pula sebabnya, SIMFes-2011 ini diberi tag-line festival musik 5 benua.

Menurut Edy Utama, tidaklah mudah untuk mewujudkan festival musik lima benua ini, karena jarak yang begitu jauh, juga membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun teryata idealisme seniman dan kesediaan masing-masing musisi/pemusik untuk menerima kondisi yang minimal, akhirnya upaya ini bisa dikongkritkan. “Idealisme para pemusik itu yang membuat mereka mau datang ke kota Sawahlunto untuk memperlihatkan kepiawaian mereka bermain musik,” kata Edy Utama.
Musisi/pemusik yang tampil pada SIMFes-2011 ini akan memperlihatkan karakteristik musik yang sangat beragam, sejalan dengan latar belakang sosial dan budaya yang mereka miliki.
Walikota Sawahlunto Amran Nur, mendukung  penuh penyelenggaraan SIMFes-2011. Ia berharap pilihan musisi/pemusik yang tampil dalam SIMFes-2011 dapat makin mengukuhkan Kota Sawahlunto sebagai Kota Heritage dan Wisata Tambang yang Berbudaya. 

sumber : kliksumbar.com 

“Kota Sawahlunto berhasil meraih penghargaan ini dan Walikota Amran Nur yang menerimanya,” kata Zohirin Sayuti Sekda Sawahlunto, saat menghadiri Halal bi Halal warga Luhak Agam Sakato, di Gedung Pusat Kebudayaan, Minggu (25/9).

Ditambahkan, setelah melalui penilaian dari beberapa aspek, seperti memerhatikan bidang pariwisata, maka sektor perekonomian masyarakat juga terangkat. Di antaranya seperti banyaknya kunjungan wisatawan yang datang.

Seperti diketahui, The President of EL Jhon Indonesia Johnnie Sugiarto mengungkapkan, penghargaan Travel Club Tourism Award ini mengambil segmen yang jelas dengan memberikan penghargaan khusus kepada pemerintah daerah, gubernur, walikota, dan bupati yang telah berbuat banyak untuk membangun pariwisata di daerah.

“Acara ini diikuti 429 pemda. Sementara pihak juri yang dilibatkan adalah praktisi pariwisata, kementerian kebudayaan dan pariwisata, serta perusahaan auditor besar dunia 'Deloitte'," jelasnya.


Disamping The Best Achievement Award yang diraih Sawahlunto, juga para juri memutuskan para pemenang penghargaan untuk tingkat Pemerintahan Provinsi yaitu :
- The Best Performance Award Kalimantan Timur
- The Most Improved Award Sulawesi Selatan
- The Best Achievement Award Kepulauan Bangka.

Sementara penghargaan untuk tingkat Pemerintahan Kota diraih oleh :
- Pemerintah Kota The Best Performance Award Denpasar
- The Most Improved Award Yogyakarta
- The Best Achievement Award yang diraih Sawahlunto

Untuk penghargaan tingkat Pemerintah Kabupaten diraih oleh :
- The Best Performance Award Sleman
- The Most Improved Award Raja Ampat
- The Best Achievement Award Malang. 


Penghargaan diserahkan oleh Menteri Pariwisata dan Kebudayaan untuk Walikota Sawahlunto Ir. H. Amran Nur yang didampingi oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sawahlunto Gusrial, B. Sc di Jakarta International Event & Convention Center (JITEC) Mangga Dua Square Jakarta pada tanggal 24 September 2011.


 SAWAHLUNTO, Majalah Bandara 
Wako Amran Nur :  Promosi Efektif “Wisata Edukasi” Mahasiswa Singapura  

Pengembangan industry kepariwisataan menurut wali kota Amran Nur tidak terbatas hanya pada infrastruktur dan sarana prasarana semata. Tapi harus didukung  dengan prilaku masyarakatnya yang mau menerima perbedaan budaya, disamping turut menjaga rasa aman dan kenyamanan pengunjung yang datang ke kota ini.

Wako Amran mengungkapkan hal itu saat menjamu makan malam bersama 15 mahasiswa Singapura yang melakukan aktifitasnya di SDLB Lubangpanjang dan SDLB Talawi pekan lalu. Menurut tokoh pembangunan Sawahlunto itu, keberadaan para mahasiswa Singapura tersebut menjadi bagian dari potret wisata sejarah yang dimiliki kota tambang batubara bawah tanah tertua di Indonesia ini.

Mereka tidak hanya sebatas memenuhi agenda pertukaran pemuda dan pelajar semata, tapi juga berpotensi untuk mengabarkan kondisi sosial masyarakat Indonesia yang cinta damai dan bersahabat secara umum. Khusus untuk Sawahlunto, secara spesifik, katanya, kehadiran pelajar Singapura lebih dimanfaatkan untuk mempromosikan kota tambang ini sebagai destinasi menarik yang tak dimiliki daerah lain.

 “Kita berbeda dengan daerah lain, yang kita jual hanya heritage-nya sebagai kota tambang bawah tanah tertua” tutur Amran Nur, yang menyambut positif keberadaan mahasiswa tersebut  tinggal di berbagai home stay  ia mengapresiasi model rumah inap seperti ini. Mudah-mudahan kerjasama ini menurutnya terus berlanjut. Sedang pemerintah akan tetap membina pemilik home stay meningkatkan perannya menyambut wisatawan yang berkunjung dan menginap di daerah ini.

Kerjasama antara Sawahlunto dan Singapura dibidang pertukaran pemuda dan pelajar menurut Amran merupakan bentuk wisata edukasi yang manfaatnya dapat dirasakan secara tidak langsung. Untuk itu ia berharap, pihak Dinas Pendidikan yang mengelola program tersebut hendaknya mampu meningkan pelayanan dan kerja kerasnya dalam mendukung promosi wisata Sawahlunto ke dunia luar. (Penulis : Indra Yosef)

SAWAHLUNTO, Bandara - Meski baru berdiri, nama homestay Sawahlunto mulai popular dikalangan warga asing seperti Singapura dan Malaysia. Bahkan, rumah inap yang dikelola warga tersebut juga pernah ditinggali wisatawan asal Canada Eric Mueller bersama istrinya Prudence Muller untuk memperingati pesta pernikahannya yang ke 65 tahun.

Penginapan alternative yang dikelola secara ekonomis oleh masyarakat itu, kini terus berbenah diri menyambut kunjungan wisatawan domestic maupun manca Negara.Sebagaimana disampaikan Ketua Homestay Kota Sawahlunto Hj.Kamsri Benti,SE saat memaparkan komunitas rumah inap yang dipimpinnya di Konsulat Malaysia di Pekanbaru pekan silam.

Kamsri Benti mengatakan, ada 25 homestay kini siap menampung para wisatawan itu. Hal ini sekaligus mampu menjawab kekuatiran berbagai pihak terhadap Kota Sawahlunto yang selalu kurangan kamar hotel bila jumlah kunjungan terus meningkat. Untuk itu, katanya, yang penting saat ini adalah, bagaimana semua pemilik homestay mampu memberikan pelayanan dan keramahtamahan terhadap pengunjung.
“Kami bukan saingan dari hotel yang ada di kota ini, tapi keberadaan kami justru mampu menjawab anggapan Sawahlunto minim tempat menginap yang representative. Dengan adanya homestay ini, maka tantangan terhadap kekuatiran itu bisa terjawab, kami mampu memberikan pelayanan terhadap tamu dengan fasilitas inap seperti berada di hotel”ungkapnya.

Menurut rencana, dalam waktu dekat, homestay Sawahlunto kembali menanti tamu spesialnya dari kelompok pengelola homestay di Pekanbaru, Riau. Tapi sebelumnya,homestay Sawahlunto telah kebanjiran pengunjung dari Singapura, Malaysia, dan wisatawan domestic. “Alhamdulillah berkat dukungan dan bantuan pemerintah kota kami mampu berbuat yang terbaik” aku Kamsri Benti, lugas.”Jika anda ingin rumah inap yang murah dan seperti rumah sendiri silahkan di homestay kami” tamnbahnya.(Penulis : Indra Yosef)      

Blog EntryJun 29, '11 12:47 AM
for everyone

“Trengganu inspirasi kami, ia punya pengalaman mengelola homestay sehingga mampu berada ditangga pertumbuhan industri wisata Malaysia. Dari merekalah muncul semangat yang melahirkan Asosiasi Homestay Kota Sawahlunto yang di dukung penuh wali kota Ir.H.Amran Nur. Disadari, tanpa semua itu keberadaan rumah inap representative tak akan pernah ada di kota ini."
"Awalnya kami melihat banyak potensi yang dapat digarap sebagai sumber ekonomi masyarakat setempat yang ada kaitannya dengan perkembangan industri wisata Indonesia saat ini. Sebagai gerbang destinasi wisata Sumatera Barat, keberadaan rumah inap sangatlah tepat untuk dikembangkan, dan jadi alternative bagi  wisatawan untuk menentukan dimana mereka akan menginap selain hotel saat melakukan perjalanan wisata dan penelitian ke kota tambang tertua ini.
Meski masih berusia muda, Asosiasi Homestay Sawahlunto tak lepas dari pembinaan pemerintah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat. Namun harapan selalu dipanjatkan, pembinaan itu jangan hanya setengah hati, tapi lebih memfasilitasi bagaimana pengusaha homestay mampu membangun manajemen secara baik dengan didukung pengetahuan yang professional.**           

Blog EntryJun 28, '11 12:46 AM
for everyone
Sumber - BiNNews – Kota Sawahlunto yang berada di dalam wilayah Propinsi Sumatera Barat yang juga dikenal dengan penghasil batubara dengan kualitas kelas dunia sejak zaman kolonial Belanda, kini terus berbenah.

Setelah diprediksikan batubara dikota tersebut akan segera habis, kini kota Sawahlunto yang berpenghunikan masyarakat dari berbagai etnis itu tengah berjuang untuk mewujudkan kota itu menjadi kota wisata tambang yang berbudaya.

Berbagai objek wisata pun telah berhasil dibangun. Diantaranya adalah, Objek wisata air Waterboom yang pertama di Sumatera Barat, Taman Satwa yang berada di bekas arela tambang Kandih, serta sejumlah objek-objek wisata lainya.

Untuk mendukung percepatan terwujudnya tekad itu, tentulah harus diiringi dengan persediaan sarana dan prasarana yang memadai. Salah satunya adalah adanya penginapan seperti hotel, losmen, wisma, atau home stay.

Menyikapi hal tersebut, hari ini, Selasa (10/5) Walikota Amran Nur berikan pengarahan tentang pengelolaan dan penataan home stay sebagai sarana penginapan terhadap wisatawan, yang dilaksanakan di aula rapat kantor Balaikota.

Kepada 25 pemilik home stay, Amran Nur berpesan agar selalu memberikan pelayanan yang terbaik, serta menjaga kenyamanan, kebersihan dan kesehatan dan juga selalu menjaga tariff.

“Tata home stay itu sedemikian rupa sehingga akan menjadi sangat menarik dan jangan terkesan murahan. Kita tidak ingin dengan harga atau tarif yang murah, home stay yang kita miliki akan terkesan sebagai home stay murahan,”harap Amran..

Lebih jauh Amran juga mengatakan, Penginapan berbentuk homestay atau rumah singgah harus memiliki ciri khas dan karakter tersendiri dalam memberikan pelayanan serta kepuasan kepada wisatawan yang berkunjung ke Sawahlunto.

 “Pengelolaan home stay itu berbeda dengan hotel. Dalam pelayanan homestay mesti mampu menciptakan suasana bagi wisatawan seperti tinggal dirumah sendiri,” pungkasnya.

Tampak hadir dalam acara tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto, Gusrial, ketua pengelola homestay sekota Sawahlunto, Kamsri Benti, serta pengurus home stay sekota Sawahlunto.

Sebelum mengakhiri acara, Amran Nur menyerahkan logo kepada pemilik dan pengelola agar dapat dijadikan sebagai identitas atau ciri khas seluruh home stay yang ada di kota ini. (Penulis:Amin)

M.Azmi Bin Abd Aziz, Ketua Homestay Teluk Ketapang 
Bermula Dari Rasa Kebersamaan

“Rumah inap yang nyaman itu bersumber dari pemilk homestay itu sendiri. Artinya, mereka harus memperhatikan banyak hal yakni, kebersihan tempat, keramahtamahan, ikhlas, dan mampu mengkomunikasikan potensi wisata yang akan dikunjungi. fasilitas tak perlu mewah tapi bersih,menarik dan nyaman sebagai rumah inap berdikari”

Konsep inilah yang menjadikan homestay Teluk Ketapang terkenal dan masuk 10 besar homestay terbaik di Negara Malaysia. Apa yang kami lakukan diawali dengan kerja keras dan gotongroyong untuk mencapai kemajuan. Satu hal yang patut diperhatikan adalah, bagaimana membangun rasa kebersamaan dan komunikasi yang intensif, baik langsung maupun menggunakan teknologi dunia maya seperti internet, itu semua dilakukan secara mandiri, pemerintah baru membantu jika kami lebih awal berbuat.

Dalam mengelola usaha ini kami lebih mementingkan persaudaraan ketimbang keuntungan. Itu makanya, setiap tamu menginap akan merasakan hangatnya silaturahmi hingga mereka bagaikan berada dirumah sendiri. Untuk mendapatkan izin homestay tidak mudah, ada mekanisme dan proses yang harus di ikuti. Sehinga pemerintah kerajaan akhirnya memberikan izin. Jadi, tamu yang hendak ketrengganu berhati-hati jangan bermalam di rumah inap yang tak berizin. *Penulis - Indra Yosef D*

Blog EntryJun 26, '11 3:07 AM
for everyone

“Jauhkan pikiran bahwa homestay merupakan rumah inap “pelarian” murah jika hotel penuh.Tapi ciptakan bagaimana para tamu betah dan memahami budaya kita orang Sumatera Barat. Untuk diketahui, banyak orang sekarang senang akan hal-hal yang spesifik, baik budaya, masakan, dan tempat inap yang alami bersentuhan dengan lingkungan nyaman”.

Komentar itu disampaikan wali kota Sawahlunto Ir.H.Amran Nur  sebelum keberangkatan rombongan Asosiasi Homestay Sawahlunto ke Trenganu pekan lalu. Amran menyebutkan, faktor penting yang perlu diperhatikan adalah kebersihan tempat inap. Jika perpaduan semua itu dapat di emplementasikan secara baik, maka ia yakin homestay sebagai sumber ekonomi baru penunjang wisata akan berkembang lebih maju.

Pemerintah, kata Amran, sangat mendukung kreatifitas warga dalam soal rumah inap ini. Ia mencatat, ada 25 rumah inap yang layak untuk dipromosikan secara luas. Baik secara regional, nasional, bahkan perlu untuk kedunia luar. “Berikan fasilitas yang representative agar wisatawan betah dan berlama-lama tinggal di rumah inap tersebut. Biar tamu merasa home sweet home ” tambahnya.*(Indra Yosef D)* 


Mengintip Homestay Ramah Lingkungan Teluk Ketapang,Trengganu
Spirit Ditengah Kemandirian Membangun Industri Rumahan


Pertumbuhan ekonomi Trengganu secara umum cukup baik. Namun ada yang membuat kita tercengang, ditengah maraknya pembangunan hotel berbintang, ternyata industry jasa homestay alias penginapan murah representative malah makin marak dengan keuntungan yang dinikmati pemiliknya. Inilah kreatifitas yang tengah dipertontonkan warga Teluk Ketapang, dan dari sinilah inspirasi itu muncul sehingga melahirkan Asosiasi Homestay Kota Sawahlunto.          

Tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi Asia dibidang tourism, didukung factor keamanan nasional dan global mengilhami banyak industry pariwisata di tanah air tumbuh dan berkembang seiring membaiknya perekonomian dunia saat ini. Salah satu indicator signifikan pertumbuhan itu adalah, berkembangnya usaha rumahan homestay sebagai penginapan alternative dan murah, namun hampir sekelas hotel melati hingga hotel berbintang dengan nuansa lingkungan ramah.

Salahsatu contoh berkembangnya industry homestay terkenal terdapat di Inggeris, tapi di Negara Asean  seperti Malaysia dan Indonesia hal itu sudah berlangsung lama. Di Malaysia, wartawan Serambi Pos Indra Yosef melakukan peliputan mengikuti lawatan Asosiasi Homestay Sawahlunto ke Teluk Ketapang,Trengganu.

Untuk bisa sampai kesitu butuh waktu sekitar 7 jam lewat darat dari Kuala Lumpur,  dan sekitar 20-an menit dengan pesawat terbang dari Bandara LCCT Kuala Lumpur ke Bandar Udara Sultan Mahmud Trengganu. Selama perjalan pulang pergi, rombongan dipandu Intan Putih Dalib dari Travel Agency Gift Two Holidays SDN.BHD.  

Keberadaan homestay dikedua Negara itu telah mengilhami pertumbuhan homestay di Kota Sawahlunto. Tercatat, 25 homestay berhasil direkomendasikan “layak” dari 40 calon yang diusulkan oleh Dinas Parawisata dan Budaya setempat. Hal ini turut berkontribusi dalam mendukung laju pertumbuhan industry wisata melalui fasilitas hunian alternative yang murah tapi cukup representative,bersih, nyaman dan aman.

Sebagaimana dirilis Harian Utusan edisi Selasa 17 Mei halaman 33, yang mengutip pernyataan Menteri Pelancongan Malaysia Datuk Seri Dr.Ng Yen Yen menyebutkan, pada tahun lalu tercatat sekitar 108.798 orang wisatawan memanfaatkan jasa homestay di Malaysia. Dari jumlah angka itu, pengusaha rumah inap ini mampu menghasilkan pendapatan sekitar RM 6,2 ribu atau 41, 9 persen dari jumlah kunjungan wisatwan manca Negara dan 12 persen wisatawan domestic.

Melihat angka pertumbuhan mengagumkan itu, pihak Kementerian Pelancongan Malaysia terus melakukan pembinaan terhadap 2.987 pengusaha mandiri rumah inap homestay termasuk yang ada di Teluk Ketapang, Trengganu. Sebagai sebuah usaha kecil bernilai ekonomis, kelompok homestay Kota Sawahlunto beberapa hari lalu melakukan studi banding ke Teluk Ketapang, Trengganu, Malaysia. Mereka melihat dan mempelajari manajemen usaha homestay yang di bangun bersama warga Teluk Ketapang atas saling pengertian, kebersamaan, berdikari dan gotong royong, dengan tujuan berkembangnya tourism Malaysia secara nasional.
Menurut Ketua Asosiasi Homestay Teluk Ketapang M.Azmi Bin Abd Aziz, didampingi timbalannya (watua) Amiruddin Arifin, dan anggotanya Chek Mat Bin Ibrahim, Mohd Hasli MD Zin, Habibuddin Bin Rejab, dan Hj.Yusof bin Saleh , mengatakan, homestay Teluk Ketapang merupakan usaha rumahan masuk peringkat 4 dari 10 besar homestay terbaik di Malaysia. Mereka dibina dan disertifikasi khusus oleh Kementerian Pelancongan, dan pemerintah Bandarraya Trengganu.

“Konsep kami adalah, bagaimana tamu jadi bagian dari keluarga sendiri. Mereka harus tau budaya dan kebiasaan masyarakat setempat, sopan dan santun perlu dijaga.”kata Azmi, sambil memberi tau paket inap selama tiga hari dua malam plus makan ia bandrol seharga 285 ringgit Malaysia, atau sekitar Rp 800 ribu dengan nilai rupiah.”Sangat murah untuk ukuran Malaysia”tambah Amiruddin Arifin yang menyatakan banyak bangsa dari berbagai Negara sudah tinggal di homestay Teluk Ketapang. Itu semua, katanya, dampak dari gencarnya ia berpromosi di dalam negeri maupun manca Negara dengan biaya sendiri.

Selama berada di Teluk Ketapang 28 anggota rombongan Sawahlunto tinggal di homestay Teluk Ketapang, mereka menyatu sebagai keluarga serumpun yang bebas dari hirukpikuk politik. Mereka disuguhi keramahtamahan, dibawa keberbagai objek wisata, makan bersama dipantai Teluk Ketapang, bergembira ria dengan permainan lucu, meninjau rumah warga sebagai rumah inap. Menanam bunga, serta bertukar cendera mata dan plakat.

Ketua Homestay Sawahlunto Hj.Kamsri Benti,SE bertutur, banyak pengalaman dan ilmu yang dapat dipelajari di negeri jiran itu untuk dikembangkan ditanah air. “Kami sangat terkesan dengan pelayanan mereka, ramah ikhlas, dan seperti keluarga sendiri.Tak ada yang membatasi kedua kultur. Inilah inspirasi kami untiuk mengembangkan homestay di Sawahlunto” ucap Kamsri Benti.

Paket inap yang dikembangkan Asosiasi Homestay Sawahlunto terdiri dari paket wisata liburan sekolah, peringatan hari jadi kota setiap 1 Desember,wista religi, dan lainnya. Soal biaya anda cukup menyediakan dana Rp 1 juta untuk 5 hari 4 malam.  

Untuk yang kesekian kali, Homestay Sawahlunto kembali menerima rombongan Belia Singapore di Kota Sawahlunto. Belia Singapore ini akan melakukan bakti sosial dengan target utama adalah Sekolah Luar Biasa dan juga Panti Asuhan.

”Rombongan Belia Singapore ini agak sedikit berbeda dari rombongan sebelumnya. Kalau biasanya kami melakukan pertukaran pelajar untuk saling mengisi liburan sekolah. Kali ini kami datang untuk melakukan aktifitas sosial” kata Huda, salah seorang belia singapore yang menginap di Cendana Homestay.

Kelompok Belia ini menggunakan Homestay Ilman di Tangsi Baru untuk dijadikan Pusat rencana kerjanya. Mereka mempersiapkan permainan dan jenis-jenis kerajinan tangan dan kegiatan lain untuk anak-anak panti agar merasa bahagia.

Nantinya, Belia Singapore ini akan meyerahkan bantuan berupa alat tulis, alat olahraga, dan berbagai macam buku paket keterampilan untuk akan-anak panti asuhan.

”Semoga apa yang kami beri ini dapat bermanfaat” harap Huda menutup pembicaraan.

Blog EntryJun 13, '11 12:23 AM
for everyone
*Sumber* padangmedia.com - SAWAHLUNTO - Keberadaan homestay di Kota Sawahlunto diharapkan dapat menunjang pengembangan kepariwisataan di kota itu. Oleh karena itu, homestay harus dikelola dengan baik. Baik dalam pelayanan maupun fasilitasnya.
Walikota Amran Nur mengatakan, apabila tertata baik, homestay akan menjadi sangat menarik dan tidak terkesan murahan.

"Kita tidak ingin dengan harga atau tarif yang murah, homestay yang kita miliki akan terkesan murahan,” katanya pada 25 pemilik homestay dalam pertemuan dengan Dinas Pariwisata setempat di aula Balaikota setempat.

Dikatakannya, Pemko telah membangun berbagai objek wisata. Pengembangannya didukung oleh penginapan seperti hotel, losmen, wisma atau homestay. Namun, kebanyakan masih terkesan natural. Untuk mendukung pengembanan pariwisata, penginapan, terutama homestay perlu menyediakan sarana dan prasarana yang memadai.

“Pengelolaan homestay itu berbeda dengan hotel. Pelayanan homestay mesti mampu menciptakan suasana bagi wisatawan seperti tinggal di rumah sendiri,” jelas Amran pada pertemuan yang juga dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto, Gusrial dan Ketua Pengelola Homestay Kota Sawahlunto, Kamsri Benti.

Kegiatan itu diakhiri dengan penyerahan logo homestay kepada pemilik dan pengelola agar dapat dijadikan sebagai identitas atau ciri khas seluruh homestay yang ada di kota itu. Logo diserahkan Walikota Amran Nur kepada salah seorang mewakili pemilik homestay. (tumpak)

Pages:12345